| 0 komentar ]

Israel-Palestina

Ia datang ketika subuh belum sempurna
sejengkal tanah dan kepingan darah
aku bertanya," apa maksudnya, Tuan?'

Ia datang ketika aku bertikai dengan saudaraku
sebuah negeri gagah berdiri
aku tak lagi bertanya," apa maksudnya, Tuan?"

Ia kini datang lagi
dengan tertawa dan kembang api
aku sedih tapi tak pernah bisa menangis
aku tersobek: diam

ia datang dengan meriam
ia datang dengan artileri
ia datang dengan rudal
ia datang dengan keserakahan
ia datang dengan sesumbar
"wahai dunia, aku Israel. aku tak pernah takut padamu. walau seujung kuku."

ia datang dan aku tak pernah bisa pergi
aku akan tetap di sini
menjadi syahid untuk negeriku: palestina


habe arifin
jakarta, 17 januari 2009

Read More......
| 0 komentar ]

Banjir Datang, Rubiah Histeris di Kuburan

Rubiah, ibu muda, itu tak bisa membopong bayinya yang baru tiga hari melek. Vaginanya juga masih sakit luar biasa. Tetapi, ia mesti mengungsi. Jakarta banjir. Hujan tumpah seperti atap roboh. Perempuan isteri kuli panggul di pasar Cipinang itu hanya bisa menangis. Tetangganya sudah tak ada. Mereka mengungsi sejak sebelum subuh. Pengungsian satu-satunya yang paling aman di tanah kuburan. Letaknya lebih tinggi dari perkampungan warga, juga tanah di bantaran kali. "Tolong, tolong!!" suaranya nyaris tak terdengar. Tapi ia tetap berusaha berteriak.

Ia harus melawan derasnya air bah. Rumah kontrakan yang mirip kandang ayam itu sudah tak mampu bertahan: nyaris roboh. Rubiah mendekap bayinya erat-erat. Ia pun kembali berteriak. Tetapi subuh berdentam dai Rubiah bangun dari tidurnya. "Di mana anakku," katanya. Bayinya hilang, entah ke mana. Rubiah histeris di tegah gaduhnya pengungsian di tanah kuburan. (si regar)

Read More......
| 0 komentar ]

BBM Turun, Harga Diri Naik

Pokrol menderukan pick upnya di jalan tol Bogor. Ia tergesa karena ikan yang dibawanya mulai kehabisan es. Belum juga lima belas menit menggeber gas, ia ditiup peluit polisi. "Diancuk," Pokrol mengumpat sambil meminggirkan mobilnya. "Selamat malam,Pak." Di hadapan Pokrol seorang polisi berperut buncit. Kumisnya melintang seperti kumis jadi-jadian pelawak Komeng.

Tanpa ditanya Pokrol memberikan amplop kepada polisi. "Seperti biasa,Ndan," Pokrol mencoba kembali ke mobil. Begitu amplop diberikan, serang polisi keluar lagi dari mobil patroli. "Anda menyuap petugas ," begitu tegur rekannya. Pokrol berhenti dan berpikir seratus kali. "Mungkin kurang," katanya enteng. Ia masuk dan kembali dengan amplop lebih besar. "Adanya cuma ini Ndan," Pokrol lagi-lagi ingin segera meloncat ke mobil dan tancap gas. Rupanya dua polisi berperut buncit itu makin senut-senut. "Anda memang benar-benar ingin menyuap petugas, Pak. Hukumannya berat lho," polisi kembali berkata kasar.

Pokrol sudah tidak betah lagi. Ia merogoh sakunya dan ditariknya uang seribuan. "Cuma tinggal ini Ndan. Mask sih tega mengambil uang rokok saya," Pokrol menggerutu. Dua polisi itu pun merampas sisa seribuan yang ada di tangan Pokrol dan berlalu sambil meniupkan 'tulalit, tulalit mobil patrolinya. Begitu mobil polisi menjauh, Pokrol kembali menyerapahinya,"Diancuk!!"

Sepanjang perjalanan di tol, Pokrol mengumpati kelakuan dua polisi itu. "BBM boleh turun, tapi upeti tetap gak bisa turun," Pokrol menggerutu. Otaknya belingsatan oleh omelan isterinya setiap kali pulang ke rumah. Maklum hampir semua kebutuhan hidup tidak ada yang turun harganya. Harga diri juga naik. Buktinya banyak orang sudah haji dua kali masih haji lagi, haji lagi. Sudah menjadi anggota legislatif tiga periode masih caleg lagi, caleg lagi. Sudah pernah jadi presiden, masih capres lagi, capres lagi.

Setoran angkot tetap naik, pengusaha angkutan sperti baru saja borong angka. Buktinya tarif angkot tak bisa turun. Harga ikan di pasar juga naik, sembako naik, harga tomat dua kali lipat naiknya, cabe merah keriting melejit. Yang murah hanya bawang merah, itu pun adanya di Brebes. Kalau sudah sampai Jakarta, harga bawang sama saja, sekilo sepuluh ribu. Yag bikin uring-uringan isteri Pokrol adalah harga seikat bayam dan kangkung. Dulu tiga ikat masih diperoleh seribu rupiah. Kini meski harga BBM turun seratus kali, harga seikat bayam seribu lima ratus. "Wedus, wedus..." Pokrol kembali mengumpat, inilah rapalan sopir cabutan macam Pokrol yang sehari-hari terkena dampak langsung kebijakan naik-turunnya harga BBM dan bersih-tidaknya ketiak polisi. Seharusnya ketika harga BBM turun ia bisa menghemat harga solar. Harapanya sia-sia karena polisi selalu minta jatah 'preman' setiap kali ia lewat tol. "Harga diri preman berseragam juga naik. Sekali stop, dua amplop lewat, wedus, wedusss." (si regar)

Read More......
| 0 komentar ]

Semoga Irsael Terus Mengebom

Gepeng, pemuda simpatisan sebuah partai agamis itu, serta-merta membawa anak isterinya, termasuk anak bungsunya yang baru dua bulan, menuju jalan protocol. Dengan motor bututnya, ia membawa serta tas besar berisi berbagai atribut partai, mulai stiker, bendera, kaos, topi, hingga jam tangan. “Semoga Irsael belum berhenti mengebom, biar semakin banyak demo dan semua atribut ini laku keras,” Gepeng berdoa dengan dada terisak.

Pemuda pengangguran itu baru saja berani berdagang. Setelah di-PHK di tempatnya bekerja tiga bulan silam nyaris seluruh kebutuhan hidupnya ditanggung mertua. Ia sudah mencoba melamar ke pabrik-pabrik, tetapi jawaban yang diterimanya sama: tidak ada lowongan. Utangnya kepada rentenir harus segera dibayar. Jika tidak bunganya bisa melebihi pokok utang. Kelahiran anak ketiganya yang membuat Gepeng harus pontang-panting. Saat isterinya sudah pembukaan sepuluh, dokter memintan dibedah caesar. Gepeng tak berkutik. Orang bodoh macam dia tak berani berkata saat detik menegangkan seperti itu. Yang penting bayi selamat, isterinya selamat. Utang dipikir belakangan.

Hari ini merupakan hari ketiga ia mulai berdagang. Sebulan lalu ia juga sudah dimodali untuk berjualan rokok. Tapi hasilnya malah tekor. Pernah juga ikut membantu jualan soto, tetapi selalu saja ada piring pecah dan ia sungkan meneruskan. Dua pecan lalu ia mencoba peruntungan dengan ikut judi togel, tetapi hasilnya ia malah sering tidur di kuburan dan tak pernah dapat uang. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah berdagang atribut partai. Dua kali ia ikut demo mengutuk Irsael, saat itulah berkah datang. dagangannya ludes. Ia mulai bisa menyicil utang.

Motornya menerabas subuh agar bisa sampai Monumen tepat waktu. Ia menggelar dagangan di belakang teriakan ribuan massa yang mengutuk kebringasan Irsael. “Semoga Irsael tak berhenti mengebom,” Gepeng kembali berdoa sambil menata dagangannya. Anak-isterinya berada di sampingnya sambil berpakaian ala demonstran. Beberapa stasiun televise sempat menyorotkan kameranya ke arah isteri dan anaknya. “Hidup Paletisna.”

Matahari beranjak siang dan demonstran semakin menggurita. Satu tas dagangan yang baru saja digelarnya benar-benar tanpa sisa. Gepeng mengantongi ratusan ribu keuntungan. Ia mengecup tumpukan uang itu sambil mengajak anak-isterinya pergi. “Kita pulang Bu,” Gepeng men-starter motornya dan wusss….asap mengepul. Sebelum sampai rumah, Gepeng membeli bakso dan beberapa kue. Ia juga menyepatkan diri membeli sate ayam. Makanan yang pernah diminta isterinya saat hamil dan belum pernah kesampaian.

Rumah petak tiga ratus ribuan sebulan dibuka. Isteri dan anak-anak Gepeng bergegas membuka bungkusan. Mereka makan dengan lahap. “wuahh..pedes banget pak sateen,” isterinya minta ditemani. Tetapi, Gepeng pamitan ke mushola. “Aku sholat lohor dulu Bu.” Ia pergi ke Mushola.

Usai sholat, ia menangis. Badannya gemetar hebat. Keringatnya meleleh. Bajunya basah. Sajadahnya basah. Tiga orang di mushola yang melihatnya tak dihiraukan. Ia menangis sejadi-jadinya sambil sujud, terus sujud. Bibirnya merapal istighfar. “Ya, Allah, mengapa doaku Engkau kabulkan. Aku tak ingin anak-anak itu mati oleh bom tentara zionis. Aku juga manusia, yang juga tak mau anak-anakku mati. Ya Allah, mengapa doaku Engkau kabulkan. Aku begitu zolim, mencari keuntungan dari penderitaan mereka.” Tangisnya begitu pilu. Gepeng tertidur hingga suara azan membangunkannya.

Esoknya, berita tablig akbar di sebuah masjid diterimanya. Ia siap-siap membawa dagangannya ke masjid. Sebelum menjejak pintu, Gepeng kembali bermunajat. “Ya Allah, jika Engkau tak mengabulkan doaku, dagangan ini akan berhenti di sini dan aku akan kembali menganggur. Tetapi, Ya Allah, jika Engkau mengabulkan doaku, sungguh aku tak sanggup menyaksikan menerima keuntungan dari gelimang darah anak-anak Paletsina itu. Aku tak sanggup menjadi mereka yang menanggung untung dari tragedy demi tragedy ini. Bismillah,” Gepeng menstarter motor butunya menuju masjid tempat tablig akbar mengutuk serangan Irsael digelar. (si regar)

Read More......