| 0 komentar ]

Anda ingin tahu bangsa pengangguran memproklamasikan dirinya? Simak berikut ini...



Proklamasi Pengangguran Indonesia

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan pengangguran bangsa Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan pekerjaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnj a.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 09

Atas nama bangsa pengangguran Indonesia.
Soekarmo/Halla

Read More......
| 0 komentar ]

Tayangan televisi itu membuat Jupri tersedak. Ubi yang baru saja diseruputnya dari semangkok kolak buka puasa melompat mengenai gundul kepala anaknya. ”Ayah...!!!” Si anak nyaris memakinya. ”Maafkan Ayah, Nak..” hati Jupri berdesir. Nuraninya membisikkan sesuatu ”Inikah hadiah kemenanganmu, Presiden!!” Ruang makan itu menjadi tak nyaman. Si isteri melotot seperti ingin menelannya. Televisi dimatikan ketika si aktor, Asrul sedang memandangi lima anaknya berebut sebungkus nasi ransum.



Ramadhan betulkah telah datang. Jupri meletakkan mangkok di meja dan ia mencari angin di teras. Ia memandangi langit yang tiba-tiba gelap. Udara berjingkat-jingkat. ”Mungkin sebentar lagi hujan,” Jupri berkata dalam hati.

Ia memutar kembali tayangan televisi yang membuatnya hampir muntah. Semua harga kebutuhan pokok naik. Harga seikat kangkung yang dulunya cuma lima ratus perak kini berubah menjadi 1.500 rupiah. ”Keterlaluan!!” Tarif jalan tol dinaikkan menjelang lebaran, usai lebaran harga elpiji dinaikkan. Utang IMF juga bertambah. ”uhukkk..uhuk..uhukk..!!! Jupri terbatuk-batuk sendirian.

Ia gelisah. Gajinya sebulan bisa ludes sebelum akhir bulan. ia membayangkan keributan kembali terjadi di keluarganya. Jupir kembali terbatuk – batuk. ”uuhukk...uhuukk...uhuk...!!!” Jupri tak bisa menghentikan batuknya dan ia terjengkang. ”Ayahhh....!!!’ Anaknya Jupri menangis. Isterinya histerisss!! (si ragil)



Read More......
| 0 komentar ]

Ia datang seperti raja yang baru saja memenangkan peperangan. Langkah kakinya seperti gajah, matanya berbinar-binar dan senyumnya terus mengembang. ”Kami bisa menangkap teroris,” katanya pendek, seperti sengaja memendam cerita agar ia banyak ditanya wartawan. Ribuan kamera kelojotan mengabadikan wajahnya. ”Kami terpaksa membunuh teroris karena membahayakn petugas,” mukanya dibuat setengah tegang agar seolah-olah ia sedang menghadapi persoalan.


Ia seorang perwira polisi. Sebulan silam, ia didamprat. Mukanya masam, nyaris tanpa harga diri. Ia tak sanggup menjaga aksi unjuk rasa yang berlangsung anarkis. Seorang ketua parlemen daerah tewas dalam aksi unjuk rasa itu. Suaranya nyaris hilang seiring kehormatannya yang tenggelam. Ia menjadi seorang pecundang. Kursi kekuasaanya digergaji, ia pun dimutasi.

Entah mengapa, ia ditempatkan sebagai juru bicara kepolisian. Sang pecundang akan membawa nama institusi kepolisian. Lantas pecahlah dentuman bom teroris. Sang pecundang pun sibuk merapikan rambut, memasang emblem kekuasaan di pundak dan di dada. Bibirnya diberi lips glos agar selalu terlihat merah dan lembab. Mukanya dicuci bersih seperti ia ingin membersihkan piring kotor kekuasaan yang lalu. Lalu ia berjalan dengan membawa map. ”Inilah dalang teroris yang meledakkan bom,” ia menenteng foto teroris dan mendekatkannya ke mukanya. Ribuan media massa nasional dan internasional menempatkan foto sang pecundang sebagai pahlawan yang berhasil menangkap para teroris.


Jutaan pasang mata menonton sang pecundang sebagai pahlawan baru: pahlawan pemberantas teroris. Tak ada lagi kata pecundang. Para wartawan juga melupakan tragedi sebulan silam. Seolah tidak ada apa-apa di siang bolong itu, ketika ketua parlemen dikepung dan diamuk massa. Seolah tak pernah ada kejadian itu, ketika polisi hanya diam membeku dan sang pecundang cuma sibuk di rumah makan menafakuri menu-menu kuliner yang tak pernah dibayar.

Negeri Indokita berhasil menciptakan pahlwan baru bekas pecundang. Sementara ribuan perwira yang tekun belajar, giat bekerja, berpretsasi dalam melaksanakan tugas, hanya bisa menjaga tong sampah dan melayani arisan. Mereka tetap menjadi sepatu. Sementara sang pecundang tertawa dan sibuk menyisir rambut karena wawnacara televisi sudah menunggunya.

Prestasi selalu sepi. Tak ada yang melihat apalagi menayangkannya di televisi, menyiarkannya di radio atau mencetak namanya di koran-koran. Lebih baik jadi pecundang. Kalah menang tetap saja menang!!! (si ragil di www.fiksinews.blogspot.com)


Read More......
Bra
| 0 komentar ]

Seorang teroris ditangkap setelah Densus (Dentuman Senapan Khusus) 99 memberondongnya dengan ribuan peluru. Cuma satu peluru yang mengenai jidatnya dan ia mati seketika. Selebihnya, ia mati karena tembakan babi buta. Berpuluh-puluh lubang di dada, batok kepala, lubang anus dan kemaluannya. Ini mirip penyiksaan. "Kita harus memenangkan pertarungan. Mereka membahayakan. Mereka membawa bom," kata Kepala Densus 99 Sapari L. Sura.

Sang teroris memang membahayakan. Karena ia suka membunuh ketika musuh lengah atau gembira. Tetapi ia sendiri dan sepi. Tak ada siapa-siapa lagi di sana. Rumah itu kosong setelah ditinggal penghuninya. Densus 99 memaksanya pergi, tetapi tidak untuk sang teroris. Entahlah, ia datang ketika sudah mati atau ia mati setelah semua pergi. Yang pasti, adalah kematiannya, lama penembakannya, tayangan televisinya, dan keberanian atau kepicikan pasukan Densus 99.



Sehari sebelumnya, sang tuan rumah baru saja berbincang dengan televisi dan mengabarkan anaknya sudah lama menghilang. Ia tak mengumbar cerita tentang teroris. Ia masih trauma. Anaknya disangka teroris dan ditangkap yang kini tak tahu di mana rimba. Ia mengeluh. Untuk sebuah nama teroris, semua yang halal menjadi haram. Semua yang baik menjadi buruk. Semua yang benar menjadi salah. Semua yang tak sengaja menjadi penjara. Semua kesalehan disangka modus. Ia berhadapan dengan stigma dan ia memilih mengalah. Tanpa menaruh dendam.

Densus 99 memilih berkhotbah dengan senapan. Ratusan anggotanya dikerahkan. Mengepung menembak, memberondongnya dengan letusan. Semua hancur. Sementara sang teroris berteriak menyerah. Ia tak ingin mati. Tetapi Densus membungkam mulutnya agar ia tak buka suara. Densus memilih ia mati. Jejak teroris yang diminta publik digambar sendiri. Sang teroris dibawa dari mobil ambulans dan dimasukkan ke dalam kantong mayat. Rumah itu kosong. Tak ada penghuninya. Sang tuan rumah dipaksa pergi. Sang teroris bernama Bra. Ia telah mati sejak stasiun televisi belum datang mengambil gambar. Bra, benarkah begitu?

Tiga orang dengan kaca mata gelap lantas membongkar kuburan Bra. Ia menemukan ribuan jahitan batok kepala, dada, perut, kemaluan, punggung, dan anus. "Tapi ini bukan pengantin kita," kata Za, sambil melipat kembali kain kafan Bra. Lubang peluru di jidatnya dibiarkan menganga tanpa jahitan. "Aneh,"pikir Za. Belum juga dikembalikan, mata Bra seperti terbuka dan menatapnya. "Jangan bercanda Bra," Za mulai ketakutan. Ia bawa jasad Bra, dimasukkan mobil dan dibawa ke Solo. Ia dimakamkan bersama dua sahibnya. "Aku bukan Bra," Za mendengar suara tanpa tahu sosoknya. Tapi ia menggali dengan keras dan menguburnya dalam-dalam.

Di Istana, Presiden Sukit melakukan rapat kabinet terbatas. "Anda luar biasa. Kabinet harus diisi oleh orang-orang seperti Anda. Mampu menerjemahkan pernyataan, mampu menjaga pimpinan kepala negara. Anda layak menjadi anggota kabinet saya berikutnya," tutur Presiden Sukit. (si ragil)

Read More......