[Senin, Juni 28, 2010
|
0
komentar
]
Goresan dari Derita Anakku
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) telah menjadi magnet baru bagi orang tua. Ratusan orang tua berduyun-duyun memadati loket pendaftaran di SDN 12 Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Terselip di antara ratusan orang itu adalah M. Adam Revolusi Arifin, anakku.
Sebagai orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar, aku juga turut berburu sekolah. Kriteria sekolah bagiku amat sederhana. Dekat dari rumah dan kondisi sekolahnya rapi, lingkungannya bersih, dan tidak nyaris ambruk. Ya, ambruk menjadi kriteria penting bila ingin sekolah dasar n(e)geri di Jakarta. Meski Ibu Kota sejumlah SD tua masih berdiri dan digunakan aktivitas belajar-mengajar. Aku tidak memiliki kriteria yang muluk-muluk, apalagi menginginkan gurunya berkualitas. Rata-rata guru sekolah dasar negeri di Jakarta sudah hamper pensiun. Sulit mendapatkan guru yang masih muda, bermutu dan professional.
SDN 12 Kebun Jeruk Jakarta Barat adalah pilihanku. Lokasinya hanya tiga belokan saja dari rumahku. Sekolahnya rapi karena baru saja direnovasi. Lingkungannya bersih karena (mungkin malu) di depan sekolah ini berdiri kantor Dinas Kebersihan Jakarta Barat. Kebetulan sekolah ini bertitel RSBI. Titel ini membuatku cemas karena dua alasan. Pertama, sekolah di sini pasti mahal. Kedua, ada tes akademik untuk menyaring calon siswa.
Kecemasan kedua membuatku ingin mengurungkan niat mendaftarkan Adam di sekolah ini. Alasanku sederhana, jika Adam tidak lulus, dia bisa stress. Itu artinya di usia yang masih belia, dia harus mengalami perasaan dan situasi menjadi pecundang. Orang yang kalah dalam persaingan. Merasa tersisih, “bodoh”, dan tidak layak menjadi siswa sekolah dasar. Meskipun sebenarnya Adam adalah rangking kedua PAUD Kasih Ibu, perasaan itu bisa terjadi. Aku khawatir ketidaklulusan ini menjadi bumerang untuk “tugas” akademiknya di kemudian hari.
Sebelum hari pengumuman kelulusan, Adam kuajak berdiskusi. “Bagaimana jika tidak lulus,” aku coba ajukan pertanyaan pancingan. “Adam tidak mau sekolah,’ jawabnya tiba-tiba. Aku sangat terkejut. Buru-buru aku menenangkannya dengan beragam argumentasi sederhana. Kecemasanku semakin menjadi-jadi. Untuk menghibur diri, Adam kupinjami laptop agar ia bisa main game online. Main game adalah kesukaannya di masa tenggang ini. Sorenya aku ajak jalan-jalan, menikmati udara sore, sambil “memberi asupan” argumentasi pentingnya mencari ilmu di mana saja, di sekolah apa saja. “Tidak. Adam tetap ingin sekolah di SD itu. Enak, ada AC-nya,” kali ini jawabannya semakin diperjelas.
Kecemasanku pun terbayar. Hari “H” pengumuman menempatkan Adam di nomor 30 dengan nilai 575 dari 28 anak yang diterima dengan nilai terendah 576. Hasil pengumuman itu aku sampaikan secara riang kepada Adam. Reaksinya hanya diam dan lebih mengalihkan perhatian. Adam memilih main game online di laptop. Dia acuh atas pengumuman itu.
Setelah pengumuman itu berlalu, kurang lebih sepekan kemudian Adam ambruk. Setelah seharian bermain, badannya mulai panas dan kepalanya pusing. Selama sepekan Adam mendekam di kamar dengan vonis dokter sebagai gejala typus. Hasil pemeriksaan darah juga memperkuak vonis itu. Yang aneh, di bagian perut bawah sebelah kanan terasa sakit. Adam mengeluhkan ini. Tetapi dokter anak menanyakan,”Apakah Adam pernah kebentur?” Ah, pertanyaan ini persis pertanyaanku. Pertanyaan orang yang bukan dokter.
Sepekan sudah vonis gejala typus itu tak kunjung membaik. Akhirnya, kubawa Adam ke dokter spesialis anak. Dari sanalah, tangan dokter itu memberi petunjuk.”Adam sakit usu buntu dan harus segera dioperasi. Ususnya telah pecah dan nanahnya menyebar ke selurh perutnya. Sekarang sudah muncul gejala infeksi di saluran kencingnya,” tegas sang dokter.
Tak berpikir lama, aku segera menenggak ultimatum dokter itu. Kubawa Adam ke Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta. Siang masuk, petang Adam langsung dioperasi. Tangisannya membuatku nyaris pingsan.
Di sela-sela sakitnya, Adam kudaftarkan di sekolah SDN 11, yang lokasinya bersebelahan dengan SDN 12 Kebun Jeruk. Tiga sekolah kupilih, SDN 11, SDn 10, dan SDN 15. Pada hari pengumuman, tak satupun SD yang menerimanya. Tes kelulusan hanya berdasarkan usia anak. Adam baru 6,2 tahun. Dia tidak diterima. Akhirnya kucari lagi info pada pendaftaran kedua. SDN 01, dan SDN 02 pagi Kelapa Dua, Kebun Jeruk, masih memiliki bangku kosong. Kusorongkan nama Adam di sana . Sehari kemudian penguuman. Adam diterima peringat kesatu. Di rumah sakit, hasil pengumuman ini kusampaikan ke Adam.
Sekali lagi, reaksinya tak menggembirakan. Adam memilih sibuk dengan sakitnya. Selang di perut masih belum dilepas. Dia tak pernah mau bicara sekolah. “Enakan main game,” katanya setelah kubelikan game boy sebagai “hadiah” atas keinginannya untuk sembuh dengan mengikuti petunjuk dokter untuk taat minum obat.
Salam
Habe arifin Read More......
[Rabu, Desember 30, 2009
|
0
komentar
]
Gus Dur
(AKu Tak Kan Pernah Mati)
Aku pasti mati
Tapi aku tetap hidup
Badan dan jasadku boleh mati
Tapi semangatku tetap hidup
Orang-orang boleh menyebutku mati
Tapi keberanianku tetap hidup
Sejarah boleh mencatatku telah mati
Tapi pikiran-pikiranku tetap hidup
Keluarga, anak, dan isteriku boleh menandai nisanku telah mati
Tapi kecintaanku kepada mereka tetap hidup
Sayangku pada bangsa, negara, dan rakyatku masih tetap hidup
Aku tak kan pernah mati
Karena jiwaku tetap hidup
Untuk mereka, bangsaku
Jakarta, 30 desember 2009
www.fiksinews.com/habe/301209
[Sabtu, Desember 26, 2009
|
0
komentar
]
Kentut Pak Hansip
PAGI ini, perut Badrul mules bukan main. Ia heran. Seharian kemarin, ia tak makan makanan yang membuat perutnya penyakitan seperti ini. Obat mencret sudah ditelannya, mulesnya malah makin menjadi-jadi. Kepala Badrul ikut pening. Dua merk obat sakit kepala pun ditenggaknya. Kepalanya malaha nyaris copot. Sakitnya minta ampun.
Badrul menggenjot becaknya ke warung Yu Jah. Angin berembus, meniupnya. Segar sekali. Udara begitu segar, meski polusi masih yang ketiga di dunia. "Sampai di warung, Yu Jah langsung membanting sutil. "Kampret temen Drul," Yu Jah ngomel. Badrul tak segera terpancing. Ia masih menahan mules. "Kalau Presiden setuju Pansus. Mendukung Pansus, minta diusut tuntas, seharusnya partai pendukung presiden di parlemen tak perlu menolak jika Pansus ingin memanggil presiden. Ini kan beda. Presidennya ngegas, ketua parlemennya ngereeeemmmmm terusss..mbulet kayak kentutnya hansip saja,' Yu Jah tiba-tiba mematikan kompor. "Aku mogok bikin kopi Drul. Kamu pesen yang lain saja," Yu Jah duduk bersilang.
Badrul mencaplok tahu petis. Ia mencocolnya dengan sambal pedas. "Nah, iki Yu yang beken kepalaku pusing, bikin pertuku mulesss sejak tadi..." Badrul kembali melahap tahu petis. Lima irisan sudah dicaploknya. "Aku juga nggak habis pikir Yu. Seharusnya, kalau presiden itu laki-laki, seharusnya tak perlu Pansus terbelah soal pemanggilan presiden. Kalau aku presidennya, akulah yang meminta agar Pansus melisting namaku dalam daftar panggil jika memang diperlukan. Itu sikap laki-laki, konsisten, berani bertanggung jawab, tak gentar menghadapi risiko. Bila perlu sebagai ketua dewan pembina partai, ia bisa meminta ketua fraksi di parlemen untuk mendorong agar pansus tak segan-segan memanggilnya bila memang diperlukan..." Badrul heran. Makin ia bicara blak-blakan, sakitnya makin berkurang dan lama-lama menghilang.
Partai pendukung pemerintah itu, Badrul tetap saja nyerocos, artinya mendukung sikap dan konsistensi pemerintah. Bukan sebaliknya, malah inkonsistensi terhadap sikap pemerintah. Kalau pemeirntah setuju pansus dibuka lebar-lebar, diusut tuntas, seharusnya partai pemerintah mendorong semuaa tindakan dan agenda pengusutan itu secara tuntas. Bukan menghalangi, bukan pula menutup-nutupi. Badrul sengaja ngocol terus. Ia ingin mulesnya bener-bener hilang.
"Lho Cak Badrul kayak orang bego saja. Sampean saja main di dua kaki. Presiden juga bisa main di dua kaki, bahkan lima wajah. Di depan rakyat, ia bisa bilang "usut tuntas." Di partai, dia bisa saja bilang,"Tahan, rem..jangan diteruskan." Di depan ketua fraksi atau ketua parlemen, ia juga bisa bilang "hadang." Di depan partai koalisi dia bisa bilang, "ngono yo ngono neng ojo ngono." Jadi jangan heran jika koran menulis mbuletnya pansus bila ingin memanggil presiden. Ini politik Cak, bukan asrama hansip," Yu Jah makin sewot. "Aku mogok gak mau bikin rawon. Kamu kalau pesen, yang lain saja.'
"Jangkrik. Otakmu encer juga Yu. Kalau pansus jalannya seperti ini, mbulet kayak kentut hansip, bisa diduga presiden memang punya panca muka. Bergantung siapa yang dihadapi dan apa situasinya. Ia bisa galak, seolah-olah serius, bisa juga lembek, seolah-olah tidak tahu masalah. Ia bisa juga cool, seolah-olah ialah yang paling baik, paling bener sendiri. Ya ibarat jurus, ia punya jurus panca muka tadi. Muka mana yang dipakai, ya bergantung siapa yang dihadapi hehehe...," Badrul berdiri. "Yu Jah, ngebon ya..!!!" Badrul melompat dari warung dan segera menggenjot becaknya. Teriakan Yu Jah agar utang bulan lalu tak digubris...
"Wedus...koen Drul..." Yu Jah mencomot tahu petis dan melahapnya utuh-utuh..!! Met tahun baru Drul..." Yu Jah ngakak. Badrul memang enak diajak berdiskusi. (www.fiksinews.com/habe/26/12/09)

