Tanggapan Obama 2
tiara sarita"
Add sender to Contacts
Obama baru akan menangis jika ada satu orang Israel yang mati karena terkena roket pejuang Palestina. tapi kalau ribuan rakyat Palestina yang syahid oleh senjata-senjata Israel, Obama masih bisa tersenyum dan belagak pilon. yah, enggak jauh bedalah sama presiden-presiden AS sebelumnya.Obama mendukung Palestina merdeka tapi juga mendukung penjajahan Israel di atas tanah Palestina. standar ganda. bulshit dan tidak masuk akal. Kalau Obama berani mengecam keras Israel dalam pidatonya nanti, maka tamatlah karir Obama. :)-
-- On Tue, 1/20/09, rick_ambalo@ yahoo.com <rick_ambalo@ yahoo.com> wrote:From: rick_ambalo@ yahoo.com <rick_ambalo@ yahoo.com>Subject: Re: [jurnalisme] OOT: Obama MenangisTo: jurnalisme@yahoogro ups.comDate: Tuesday, January 20, 2009, 12:10 AMKecian deh Habe ini. Wake up man, Obama adalah pendukung utama Palestinamerdeka. Sebab si "organisasi teror" Hamas yg menyerbu sderot dengancluster bom fosfor putih dan membunuh anak2 dan penduduk israel yg cinta damai.Israel yg selalu ingin berjabat erat dengan Palestina, orang Palestina aja yggebleg gak mau dan justru membangun tembok. Orang Palestina aja yg goblok sudahambil kebun2 orang israel dan merampas tanah, bikin perumahan dan gak mau damai.Malah katanya israel bikin penjara besar bernama Gaza. Omong kosong itu semua.Hidup Obama.RickPowered by Telkomsel BlackBerry®-----Original Message-----
From: "Ridwan Nyak Baik" <rbaik@pertamina. com>Date: Mon, 19 Jan 2009 08:26:20 To: <jurnalisme@yahoogro ups.com>Subject: RE: [jurnalisme] OOT: Obama MenangisBung Habe memang bermimpi, karena Koran Tempo pagi ini (Senin, 19/1)menurunkan pernyataan menlu Kabinet Obama, Hillary Clinton bahwa amrikgak bisa netral dalam memainkan perannya sebagai penengah soal Palestinadan Israel. Dengan kata lain: gak mungkin Obama sampe nangis sedih perihatas nasib bangsa Palestina yang digempur hancur bubur oleh aggressorpenyebar terror nan kesohor, kebiadaban Israel. Namun kepastian mimpiBung Habe kita lihat besok. Who's know the dream will comes true, Bung.Tabik;RnB
Tanggapan “Obama Menangis”
Item"
Add sender to Contacts
To:
jurnalisme@yahoogroups.com
Saya justru menanggapi positif mimpinya mas Habe Arifin. Saya juga suka cara
penulisannya. Terus terang, awalnya saya terkecoh dengan tulisan "mimpi"
Obama Menangis itu. Ini menunjukkan mas Habe Arifin penulis yg dahsyat!
Makanya saya berikan komentar yang membangunkan mas Habe lewat judul
tulisannya : "Habe Menangis, Obama Tertawa" ---meskipun judul ini tidak lagi
akurat karena Obama sama sekali tidak tertawa saat berpidato di depan 2 juta
rakyat Amerika dan miliaran penonton teve lainnya.
Saya tidak trlalu terkesan dengan pidato Obama. Tapi saya menghargai isi
pidatonya yang mengkritik ke semua jurusan. Dia kritik bangsa Amerika yang
rakus dan konsumeris yang membawa Amerika+dunia ke jurang krisis ekonomi,
dia kritik pendekatan kekerasan dan perang presiden sebelumnya, dia kritik
kecenderungan penggunaan simbol2 agama di berbagai negara untuk tujuan
politik. Sebalikya Obama mengajak semua orang --tak peduli agama, ras, dan
bangsanya- terlibat dalam perubahan yang akan dia bikin.
Anda percaya pidato Obama?
Saya sih fifty2. Separuh karena saya menaruh harapan bagi perubahan dunai
yang lebih baik, separuh lagi karena sikap realistis. Kita tahu, selain jadi
presiden negara adidaya, Obama juga seorang politisi, seorang ayah dari
keluarganya, seorang wakil warga Afro-Amerika, seorang kristen Amerika,
seseorang yang pada pundaknya sudah dibebani begitu banyak masalah --bahkan
sejak hari pertama dia berkantor di Gedung Putih.
Jikapun Obama Menangis, saya kira bukan karena penderitaan bangsa Palestina.
Realistis sajalah.
Kalau saya jadi Obama, mikirin masalah dalam negeri sendiri sudah bikin
mewek2 bombay. Lalu mikirin negara asal ayahnya, Kenya, dimana 37 juta
penduduk hidup dalam kemiskinan, kelaparan, sanitasi buruk, kurang gizi,
penyakit dan ancaman perang saudara. Kenya dimana1,5 juta warganya yang
miskin hidup dalam ancaman HIV yang akut, dimana ratusan ribu warganya
tinggal di kamp2 pengungsi yang sangat buruk. Ini baru bicara satu negara.
Bandingan dengan korban sipil di Gaza yang, maaf, cuma 2000 orang. Itupun
karena perang.
Saya tidak meremehkan korban manusia di Gaza, semua tragedi kemanusiaan
selalu membuat kita sedih. Melainkan membandingkan dengan negeri lain yang
sama bahkan lebih menderita dari rakyat Palestina --yang memang sedang
perang. Di Kenya, negara asal bapaknya Obama, angka 2000 mungkin angka
kematian sehari-hari akibat kelaparan, kemiskinan, penyakit, konflik
perbatasan (Somalia, Ethiopia) --- dalam konteks ini, wajar jika Obama tidak
atau belum menangis untuk Palestina. Ini baru bicara sat negara yan terkait
dengan eksistensi Obama. Belum negara2 lain yang punya kaitan2 dan alasan
berbeda untuk minta perhatian dan enerji Obama.
Jadi, saya hargai mimpi bung Habe dan mendorong teruslah bermimpi. Maaf jika
saya "membangunkan tidur" dengan memaparkan kenyataan hidup yang --bisa
jadi-- jauh dari mimpi anda tentang Obama.
Saya alhamdulillah baik2 saja, bung AH. Antum?
Al Item
2009/1/21 Ahmad Husein
> Saya kira tak ada yang salah dengan mimpinya Mas Habe itu. Dan tak ada
> yang salah juga bila jadi pemimpi. Mas Habe, menurut saya, melakukannya
> dengan cara produktif kok, menuliskannya mimpinya dengan menarik. Meski
> dalam kasus ini, saya juga tak percaya Obama bakal menangis karena hal
> yang Mas Habe sampaikan. Tetapi, siapa tahu, kelak Obama menangis karena
> hal lain.
>
> Kalau soal bermimpi saja kita sudah 'dikekang', sedih amat yak..??
>
> AH
> -Mas Item, apa kabar?-
>
> >
> > Re: OOT: Obama Menangis
> > <
> >
> > Posted by: "Habe Arifin" habearifin@yahoo. com
> >
> ?Subject=%20Re% 3A%20OOT% 3A%20Obama% 20Menangis>
> > habearifin
> >
> >
> > Tue Jan 20, 2009 6:56 am (PST)
>
> >
> >
> > Terkadang dunia ini dibangun dari sebuah impian. Peraih Nobel M
> > Yunus pun bermimpi bagaimana mengentaskan orang-orang miskin di
> > negaranya. Andrea Herata memimpikan masa depan anak-anak desa yang
> > miskin. Habe sudah berkali-kali menangis melihat anak-anak
> > dibantai Israel. Habe memimpikan Obama ikut menangis dan membuat
> > perubahan revolusioner dengan menegakkan bendera perdamaian dunia.
> >
> > habe
> >
> > --- On Tue, 1/20/09, Item
> >
> >
> > From: Item
> > Subject: Re: [jurnalisme] OOT: Obama Menangis
> > To: jurnalisme@yahoogro ups.com
>
> > Date: Tuesday, January 20, 2009, 6:26 PM
> >
> > judule kleru.
> >
> > harusnya : habe menangis, obama tertawa. hahaha...
> > atau obama presiden baru amerika, habe cuma pemimpi. hihihi...
> >
> > al item
> > ga percaya mimpi, tapi percaya setiap orang bisa berkontribusi dalam
> > perdamaian dunia
> >
> > 2009/1/18 Habe Arifin
> >
> > > Obama Menangis
> > > from: www.fiksinews. blogspot. com
> > >
> > > Lima juta warga negara New York berdiri melambaikan tangan,
> > dengan suara
> > > gemuruh pekik "O b a m a". Rakyat Amerika, di seluruh jalan, di
> > trotoar, di
> > > rumah-rumah bertingkat, di hotel, apartemen, di lobi-lobi pick
> > up, semua
> > > ingin menyaksikan inagurasi Obama. "People United State," Obama
> > mengawali
> > > penampilannya. Isteri dan anak-anaknya berada tak jauh dari
> > panggung utama.
> > > Obama mengenakan pakaian kebesaran Palestina. Lengkap dengan
> > kafiyeh.
> > >
> > > Obama melambaikan tangan dan gegap gempita suara rakyat Amerika
> > > menyambutnya. Gerbong kereta Abraham Lincoln membunyikan belnya dan
> > > berderup-derup ikut menyemangati teriakan rakyat Amerika.
> > "Amerika dalam
> > > perubahan bersama saya: Obama." Teriakan kembali bergaung.
> > "Hentikan semua
> > > permusuhan, hentikan semua peperangan, hentikan perangi kemanusiaan,
> > > hentikan semua diskriminasi ras, agama, suku, dan bangsa. Kita
> > semua manusia
> > > yang diciptakan sama oleh Tuhan. Manusia yang dilahirkan untuk
> > bersama-sama
> > > memanusiakan peradaban. Hentikan perang di Palestina. Tarik
> > semua tentara
> > > Israel. Beri dukungan dan bantuan kemanusiaan warga Palestina."
> > Obama
> > > menitikkan air mata. Ia tak kuasa berkata-kata.
> > >
> > > Isteri Obama mendekatinya dan memeluknya dengan hangat. "Dalam
> > kesempatan
> > > ini saya khusus memakai baju ala Palestina. Saya ikut berduka.
> > Ribuan
> > > anak-anak dan wanita berdarah oleh rudal-rudal Israel. Ini
> > mengingatkan saya
> > > perang ras, antara yang hitam dan yang putih di bumi Amerika.
> > Kakek buyut
> > > saya tewas oleh serangan kulit putih. Hitam atau putih adalah
> > sama. Mereka
> > > diciptakan oleh Tuhan menjadi manusia untuk memuliakan
> > peradaban," Obama
> > > bersemangat. Ia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas.
> > "Hentikan
> > > perangi kemanusiaan. Hentikan sekarang atau Amerika akan mengerahkan
> > > tentaranya untuk menjadi pelopor perdamaian dunia," Obama
> > berapi-api.
> > > Teriakan rakyat Amerika seolah meruntuhkan Gedung WTC 11
> > September 2001
> > > lalu.
> > >
> > > Jutaan pasang mata di seluruh dunia menyaksikan pidato Obama. Tak
> > > ketinggalan pasukan Israel di Jalur Gaza, juga gerilyawan Hamas,
> > gerilyawan
> > > Hezbullah, perdana menteri Israel dan kabinetnya. Saluran
> > televisi tak
> > > menyisakan ruang iklan sedetik pun untuk memberikan kesempatan
> > bagi milyaran
> > > warga dunia menyimak pidato pertama presiden AS berkulit gelap.
> > "Saksikan
> > > bahwa saya Obama akan memelopori perdamaian abadi di dunia ini.
> > Kami perlu
> > > kalian dan kalian perlu kami. Kita semua bersaudara. Tangan
> > kanan kita
> > > sakit, tangan kiri merasakan ngilunya. Gigi kanan kita sakit,
> > sekujur tubuh
> > > kita merasakan demamnya. Mari upayakan perdamaian di penjuru
> > dunia tanpa
> > > diskriminasi ras, suku, agama, dan bangsa," Obama kembali
> > berapi-api sambil
> > > mengepalkan tinjunya ke udara.
> > >
> > > Belum selesai pidato Obama, kaki Sompral berasa amat dingin. Ia
> > mengigil.
> > > "tolong...tolong. .Obama, Obama, Obama," Sompral tergeragap
> > bangun dari
> > > tidurnya. Air Ciliwung naik ke dipan. Ia mengucek matanya,"Di
> > mana Obama."
> > > Sompral segera membangunkan emaknya dan mengevakuasinya ke tanah
> > kuburan. (
> > > si regar)
In Antahberanta
Sabotase Gaya Koboi
Ia mengendap ketika hari mulai gelap: dan sebuah percikan diciptakan. Ia segera memacu kudanya menuju pemukiman. Ia menyelinap dan hilang ditelan keramaian. Ledakan berkali-kali terdengar. Kobaran api menjilat-jilat dan cendawan bergelombang-gelombang pekat-hitam. “Pelaku berada di lokasi, melihat kedahsyatan aksinya, melihat korban-korbannya,” seorang polisi spesialis pengejaran terorisme berkata dengan hidung tersumbat. “Ancaman mereka kini terealisasi. Kami telah kecolongan.”
Akhir tahun lalu, ketika terpidana terorisme menjelang ajal, tangki premium itu diancam. Para pengirim teror itu mengaku masih sehaluan dengan sang teroris. Ancamannya terbukti. “Ini balasan atas eksekusi teman kami,” sebuah situs tak resmi mengumumkan dirinya sebagai pelaku sabotase. “
Lima juta premium ludes. Untungnya lima puluh juta BBM lainnya tak ikut mengasap. Mereka berdampingan. Panasnya kobaran lima juta premium tak melelehkan tangki lainnya, meski jaraknya hanya belasan meter. “Itu hanya persekot, sebelum aksi-aksi lain dilakukan,” bisik situs yang berisi pesan berbahasa arab gundul itu.
Konferensi pers segera digelar. Kepolisian Republik Indokita mengumumkan peledakan Depo BBM akibat aksi terorisme. “Teroris berhasil membuat kita terus waspada,” demikian Kapolri menaruh bibirnya di corong radio dan televisi. “Kami akan terus mengejarnya,” Kapolri melengkapi pemberitaan media hari ini.
Presiden memanggil Kapolri. Setelah mengaku tidak happy atas kinerja intitusi permiyakan itu, Presiden minta pelaku segera ditangkap. Kapolri pulang dengan muka cemberut. Ia menyiapkan scenario penangkapan. Sepekan kemudian, seorang tukang batu di kawasan Pandeglang dibekuk. “Ia ikut serta membawa bahan peledak,” tutur pemburu teroris dengan dada terdongkrak. Hari-hari berikutnya, media local-nasional, diisi penangkapan sejumlah teroris.
Minggu kedua, Presiden muncul lagi ke panggung politik. Ia menancapkan bibirnya ke mikrofon dengan gaya koboi. “Kami bangga atas prestasi kepolisian yang dengan capat dan tanggap menangkap para pelaku,” Presiden memuji Kapolri tiga kali dalam sehari, seperti ia minum obat amnesia.
Pernyataan presiden ini membuat semua pihak merasa lega. Tapi tidak bagi pelaku jihad yang dicap teroris. “Kami bukan pelakunya. Kami hanya menyerang objek-objek asing, zionis. Kami tak mau menyengsarakan saudara kami sendiri. Ini pemutarbalikan fakta. Ledakan itu di luar ideologi dan nalar kami,” Osama M. Top mengirimkan rekaman pernyataannya ke stasiun televise Al Banjeera.
Polisi mencari cara mudah melepas tanggung jawabnya. Ia tak mau repot mencari penyebab setiap malapetaka. Mereka selalu menuding teroris sebagai biang kerok semua persoalan bangsa dan kebobrokan pemerintahan. Sejumlah orang ditangkap dan diberi stempel teroris. “Padahal, mereka cuma tukang batu, tukang tambal ban, dan onderdil. Mereka bukan teroris. Baca syahadat saja mungkin tak fasih, bagaimana mereka mengerti jihad,” Osama M. Top menutup pesannya.
Aparat kebakaran jenggot. Kepolisian menangkap lagi guru ngaji. “Ia dalangnya,” aparat kembali mengulang sukses. Sang dalang pun ditampilkan di televise, lengkap dengan surban, kopiah, dan lafal-lafal fasih Al Qur’an. Sadar atau tidak, aparat telah menempatkan Al Quran sebagai biang kerok kekerasan, karena semua pelaku mengaku mendapat perintah seperti tercantum dalam kitab suci.
Sebulan kemudian, di sebuah hotel bintang lima, bertemulah tiga kandidat direksi perseroan plat merah. “Seenaknya saja menteri bicara: tak ada pergantian dirut. Kalau tak meledak, mana mungkin kita bisa naik posisi,” seorang dari mereka buka kartu, ditingkahi tawa dua rekannya. ( si regar)
Inagurasi, Obama Menangis
Lima juta warga negara Washingotn berdiri melambaikan tangan, dengan suara gemuruh pekik "O b a m a". Rakyat Amerika, di seluruh jalan, di trotoar, di rumah-rumah bertingkat, di hotel, apartemen, di lobi-lobi pick up, semua ingin menyaksikan inagurasi Obama. "People United State," Obama mengawali penampilannya. Isteri dan anak-anaknya berada tak jauh dari panggung utama. Obama mengenakan pakaian kebesaran Palestina. Lengkap dengan kafiyeh.
Obama melambaikan tangan dan gegap gempita suara rakyat Amerika menyambutnya. Gerbong kereta Abraham Lincoln membunyikan belnya dan berderup-derup ikut menyemangati teriakan rakyat Amerika. "Amerika dalam perubahan bersama saya: Obama." Teriakan kembali bergaung. "Hentikan semua permusuhan, hentikan semua peperangan, hentikan perangi kemanusiaan, hentikan semua diskriminasi ras, agama, suku, dan bangsa. Kita semua manusia yang diciptakan sama oleh Tuhan. Manusia yang dilahirkan untuk bersama-sama memanusiakan peradaban. Hentikan perang di Palestina. Tarik semua tentara Israel. Beri dukungan dan bantuan kemanusiaan warga Palestina." Obama menitikkan air mata. Ia tak kuasa berkata-kata.
Isteri Obama mendekatinya dan memeluknya dengan hangat. "Dalam kesempatan ini saya khusus memakai baju ala Palestina. Saya ikut berduka. Ribuan anak-anak dan wanita berdarah oleh rudal-rudal Israel. Ini mengingatkan saya perang ras, antara yang hitam dan yang putih di bumi Amerika. Kakek buyut saya tewas oleh serangan kulit putih. Hitam atau putih adalah sama. Mereka diciptakan oleh Tuhan menjadi manusia untuk memuliakan peradaban," Obama bersemangat. Ia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas. "Hentikan perangi kemanusiaan. Hentikan sekarang atau Amerika akan mengerahkan tentaranya untuk menjadi pelopor perdamaian dunia," Obama berapi-api. Teriakan rakyat Amerika seolah meruntuhkan Gedung WTC 11 September 2001 lalu.
Jutaan pasang mata di seluruh dunia menyaksikan pidato Obama. Tak ketinggalan pasukan Israel di Jalur Gaza, juga gerilyawan Hamas, gerilyawan Hezbullah, perdana menteri Israel dan kabinetnya. Saluran televisi tak menyisakan ruang iklan sedetik pun untuk memberikan kesempatan bagi milyaran warga dunia menyimak pidato pertama presiden AS berkulit gelap. "Saksikan bahwa saya Obama akan memelopori perdamaian abadi di dunia ini. Kami perlu kalian dan kalian perlu kami. Kita semua bersaudara. Tangan kanan kita sakit, tangan kiri merasakan ngilunya. Gigi kanan kita sakit, sekujur tubuh kita merasakan demamnya. Mari upayakan perdamaian di penjuru dunia tanpa diskriminasi ras, suku, agama, dan bangsa," Obama kembali berapi-api sambil mengepalkan tinjunya ke udara.
Belum selesai pidato Obama, kaki Sompral berasa amat dingin. Ia mengigil. "tolong...tolong..Obama, Obama, Obama," Sompral tergeragap bangun dari tidurnya. Air Ciliwung naik ke dipan. Ia mengucek matanya,"Di mana Obama." Sompral segera membangunkan emaknya dan mengevakuasinya ke tanah kuburan. ( si regar)
